Wednesday, April 22, 2009

Bayi Maria


“Anakku lahir tadi pagi,” lirihku di telepon.

“Laki apa perempuan?” Tanya Maria.

“Laki.”

“Normal atau cesar?”

“Normal. Masuk jam 9 pagi kemarin, baru melahirkan jam setengah dua siang hari ini.”

“Wow. Lama banget. Tapi istri kamu gak apa-apa kan?”Dari suaranya nampak terkejut. Tapi aku tahu dia pura-pura. Dia memang tidak bisa berbohong.

“Cuma masih kelelahan saja. Dia lagi tidur.”

“Anak kamu persis kamu?”

“Untungnya gak, kasian dia nantinya,” jawabku sambil tertawa.

“Lho kok gitu? Punya anak gak mirip sama kamu kok malah bersyukur,” tanyanya heran.

“Soalnya kalo mirip sama aku, masa remajanya bakal sama kayak aku: gak disukain perempuan yang berbuntut sama mabok-mabokan ha ha ha.”

Aku bisa mendengar suara tertawanya dari ujung telepon satunya lagi. Sejak pulang ke Jakarta, berhubungan dengannya lewat telepon bisa dihitung dengan jari.

“Kalau aku punya anak, seperti apa ya nantinya?”

“Kalau perempuan, cantik kayak kamu.”

“Gombal! Emangnya siapa yang bilang aku cantik?”

“Ya aku lah! Makanya…”

Ups, aku baru sadar kalau baru saja lidahku terpeleset. Segera aku tutup rapat-rapat mulut sialan ini sambil menunggu reaksinya. Tapi tidak ada sahutan apa-apa darinya. Kami lalu terdiam beberapa detik. Lalu aku dengar jawabannya…

“Makanya kamu cinta aku?”

Aku tahan mulutku yang bandel ingin menjawab pertanyaannya.

“Kamu cinta aku melebihi istri kamu?” Tanyanya lagi.

“Kita sudah pernah membahas ini,” jawabku menggantung.

“Ya kita bahas lagi sekarang. Lupakan istrimu dan tinggal sama aku di Tokyo.”

Aku akan berbohong kalau aku tidak pernah berpikir soal itu sebelumnya: pergi dari Jakarta, tinggal di Tokyo bersamanya, dan melupakan masa lalu. Tapi aku juga belum bisa menjawab pertanyaan apakah aku akan lebih bahagia?

Aku jatuhkan pantatku di ujung ranjang istriku tidur. Dia nampak lelap setelah seharian berusaha melahirkan. Lalu aku lihat anakku disebelahnya. Matanya, bibirnya, jari-jarinya. Tidak ada yang lebih sempurna.

“Halo Maria. Aku telepon kamu lagi. Istriku baru saja bangun.”

Monday, June 23, 2008

First Breath After The Coma

Aku menemukannya sedang tertidur di kasur tanpa ranjang. Ada air liur di ujung bibirnya yang tipis. Di sela jari tangan kanannya yang kotor dengan cat minyak, ada sepucuk linting ganja yang telah padam dan sebotol bir yang telah kosong dekat kepalanya.


Rambutnya yang pendek, menutup sebagian wajahnya. Dia mengenakan kaus tanpa lengan dan jins abu-abu yang lusuh. Mulutnya tak berhenti mengingau, meracau. Keningnya basah oleh keringat yang kuseka dengan telapak tanganku. Ada sungai air mata yang mengalir di pipinya.


Di dekatnya ada sebuah lukisan seorang wanita. Ada kemiripan antara wajahnya dengan wanita di lukisan itu. Kusentuh kanvasnya. Cat minyaknya masih basah. Dekatnya ada gelas berisi bir setengah dengan kuas di dalamnya. 


Aku kemudian jongkok di sebelahnya. Tidurnya kini meringkuk. Kubuka jubahku dan kututup tubuhnya. Dari bibirnya terbit sebuah senyum. Lembut, kutiup wajahnya agar aku bisa lihat jelas kecantikannya. Mungkin aku yang terlalu pemilih, tapi jujur, ia bukan tipeku.


Kulemparkan pandanganku ke dinding ruangannya. Ada fotonya sedang memeluk seorang anak kecil. Wajahnya tampak gembira. Tak ada rona keputusasaan yang terpancar. Tak ada debu kesedihan yang mengotori pipinya.


Kuambil CD Explosion in The Sky dari tumpukan yang tak beraturan di lantai dan kumasukkan ke dalam CD Player. First Breath After The Coma segera memenuhi isi kamarnya. Rasanya sekarang saatnya aku pergi. Biar lagu ini yang sekarang menemaninya.


“Jangan pergi!” Katanya mengingau.


Aku tersenyum dan moksa dihisap debu.


Thursday, May 22, 2008

90% Maria




Hampir saja aku lupa janjiku dengan Maria sore ini. Tenggelam di tumpukan berkas-berkas thesis membuatku lupa menghitung waktu. Setengah jam lagi aku harus muncul di hadapannya atau dia akan membenciku seumur hidupnya.


Secepat kilat, kurapikan buku-bukuku di meja, kusambar mantelku, dan lari sekencang Cheetah kelaparan menuju tempat kami bertemu, sebuah klub Jazz di Harajuku. Klub ini baru dibuka kira-kira dua bulan. Lokasinya berada di jalur aku pulang menuju apartemen. Tempatnya tidak terlalu ramai, tapi musiknya selalu menjewer kupingku memaksa untuk masuk. Tapi aku tak mau menikmati Jazz sendirian seperti lelaki payah yang baru saja di PHK. Makanya, aku ajak Maria ke sana.


Beruntung, jarak antara apartemen dengan Harajuku hanya 15 menit dengan berlari dan aku hanya telat 1 menit. Tapi Maria telah memasang muka masam di depan pintu masuk sambil pura-pura mengecek jam tangannya.


"Jam tanganku kayaknya rusak nih. Soalnya harusnya kamu sampai di sini semenit yang lalu," sindirnya.


Aku cuma menggaruk rambut sambil memberikan senyum terburukku. Tanpa memberikan alasan, langsung kutarik tangannya masuk ke dalam.


Kami memilih meja yang tidak terlalu dekat dengan panggung. Aku sebenarnya tak suka suara bising. Mengganggu obrolan, menurutku. Kami memesan dua gelas bir dan semangkuk kentang goreng pada pelayan yang mukanya mirip dengan wajah orang Prancis yang kakinya terinjak roda mobil.


Interior klubnya tidak terlalu istimewa. Hanya beberapa sofa di pojok dan meja dan kursi biasa yang sering ada di klub-klub semacam. Di dinding hanya ada beberapa poster Duke Ellington, Count Bassie, dan musisi Jazz lainnya. Cuma interior pendukung bahwa ini sebuah klub Jazz.


Di panggung, seorang lelaki tua, kira-kira berumur 50-an, bertubuh gempal, memakai setelan jas hitam sedang meniup saxophonenya. Butir-butir keringat jatuh di keningnya. Setiap habis satu lagu, ia akan mengelap keningnya dan mulai lagi meniup saxophone-nya.


Aku melirik Maria. Rambutnya baru dipotong pendek dengan serpihan warna emas di ujungnya. Bibirnya dibiarkan bersih tanpa gincu. Pipinya dibilas warna merah, tapi tidak tebal. Ia nampak serius memperhatikan si bapak tua di panggung. Kakinya terus bergerak menemani alunan musik yang keluar dari saxophone.


Maria adalah wanita yang unik. Untuk perempuan seumurannya, dia hapal tiap bait puisi dari Pablo Neruda. Bacaannya saja Jean Paul Sartre. Tiap kali dia mengajakku mengadu soal filsafat, hanya dalam dua gebrakan aku sudah terkapar. Makanya, dia kuberi julukan Maria si gadis filosofis. 


Kalau tersenyum, ada cekungan di pipinya. Bila tertawa, dia akan mengeluarkan suara seperti ibu-ibu kaya di daerah Roppongi. Bulu-bulu di tangannya berwarna pirang dan bila ia diam, matanya seperti hilang. Seakan dia memikirkan tentang sesuatu tapi tidak. 


Dia selalu bercerita tentang semua mimpi-mimpinya. Bagaimana ia ingin untuk bertualang ke tempat asing dengan pantai yang indah di mana ia bisa menulis di tepinya, memanen buah imajinasinya yang ia tanam. Dia juga ingin merekam lagu ciptaannya dengan gitar dalam sebuah album akustik. Semuanya diceritakannya padaku. "Aku harus menceritakan semua mimpi aku. Harus!" katanya.


Mencari perempuan yang 100 persen sesuai dengan keinginan kita seperti mencari jarum di tumpukan jarum. Maria mungkin bukan perempuan yang 100 persen seperti yang kumau. Tapi bisa kuyakinkan diriku bahwa Maria adalah perempuan 90 persenku.


Si lelaki tua di panggung akhirnya menyerah dengan saxophonenya. Ia turun dari panggung dan duduk di meja bar. Ia jentikkan tangannya memesan segelas bir kepada pelayan. Beberapa detik kemudian, minumannya datang dan detik berikutnya sudah hilang masuk ke dalam tenggorokannya.


"Sejak kapan kamu suka Jazz? Kamu kan benci Jazz" Kataku.


Maria memberiku tertawa kecil khasnya. "Gak tau deh. Sejak kapan ya?"


Ia lalu menyenderkan kepalanya ke bahuku dan melingkarkan tangannya ke tanganku. Suara nafasnya jelas terdengar di telingaku. 


"Pulang yuk. Kita ke apartemenmu aja. Kita nonton Indiana Jones yang baru kamu beli," bisiknya.


Aku cium kepalanya. Bau buah-buahan dari shampo rambutnya menyelinap masuk ke cuping hidungku. Aku lalu memberi tanda pada pelayan supaya membawa tagihan.


Si pelayan lalu datang membawa map tagihan ke mejaku dan berdiri di sana seperti polisi yang baru menilang. Kurogoh kantung celanaku mencari dompet.


Mendadak mukaku berubah pucat seperti mayat. Jantungku seakan mau lari dari sarangnya. Butir-butir keringat sebesar Melon jatuh di keningku. Nafasku naik turun tidak beraturan dan mataku menjadi kunang-kunang.


"Ada apa? Kamu kok tiba-tiba keringat dingin gini?" Tanya Maria gelisah.


Pelan kutempelkan bibirku di telinganya. "Maafin, tapi kayaknya dompetku tertinggal di apartemen..." Bisikku.

Tuesday, March 25, 2008

Kopi Maria

Maria mengaduk cangkir kopinya berulang-ulang. Matanya hampa. Seperti seseorang telah mematikan sinar yang berada di dalamnya. Seseorang itu adalah aku.

Pelan kusentuh tangannya, menghentikannya agar tidak terus mengaduk.

“Berapa kali pun kamu aduk, itu akan tetap kopi,” candaku.

Ia sama sekali tak tertawa. Bahkan sama sekali tak menatapku. Maria lalu berjalan ke arah dapur dan duduk di meja makan. Kuikuti dia dari belakang dan juga duduk berhadapan dengannya.

“Maafkan aku, tapi sama seperti kopi itu, keputusanku tak bisa kuubah,” ucapku membelah kebisuan.

“Bahkan bila aku minta?” katanya tiba-tiba.

Kugerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Gerakan terberat yang pernah kulakukan seumur hidupku.

“Istriku memintaku pulang. Dan itu yang akan aku lakukan.”

Maria terdiam lagi. Dia lalu menyeruput kopinya dan meletakkan lagi di meja.

“Bagaimana dengan aku? Apakah kamu akan menghapus ini semua lalu di atasnya kamu tulis lagi supaya seakan tak pernah ada?”

Tenggorokanku tercekat. Skak mat. Tak ada kalimat yang bisa menyelamatkanku dari serangan kata-katanya. Patut kuakui, ia memang pandai dengan kata-kata.

“Lalu mau kamu, aku bagaimana?”

“Ya tetap di sini. Bersamaku. Jangan pulang. Mudah bukan?”

“Tapi semuanya tak semudah yang kamu pikirkan.”

Tiba-tiba tangannya bergetar. Muncul riak dari cangkir kopinya. “Kamu sama sekali tak mengerti apa yang aku pikirkan! Kamu kira selama ini kamu tahu setiap inci, setiap sudut pikiranku? Lalu dengan gampangnya kamu bisa menyimpulkan bahwa pikiranku itu seperti gelombang radio yang bisa kamu tangkap dan kamu dengarkan? You have no idea what I’m thinking and what I’m feeling right now!” Teriaknya. “Just go! Just get out and don’t come back!”

Aku seperti idiot yang tak pernah masuk sekolah luar biasa. Tak kusangka kemarahannya telah mencapai puncaknya. Ini batasnya. Apa yang diucapkannya adalah sabda. Tak ada pilihan selain aku harus pergi dari hadapannya.

Pelan aku beranjak pergi meninggalkannya. Maria sama sekali tak memandangku. Ia masih menatap hitam kopinya. Baginya aku cuma debu malam yang kasat mata.

Di tempat tidur flatku, mataku tak bisa kututup. Seakan ada kait yang menyantol di alisku, mencegahnya supaya jangan terpejam. Kubuka kulkas. Cuma ada sekaleng bir dan pizza dingin. Biasanya Maria yang membelikan segala keperluanku. Laki-laki butuh perempuan untuk mengatur hidupnya, katanya sambil tersenyum. Ah, senyuman yang pasti akan aku rindukan.

Kubuka kaleng bir dan kusulut sebatang rokok sambil menatap keluar ke arah malam. Kali ini, bulan cuma sepenggal. Setengahnya hilang. Sama seperti diriku sekarang. Hilang dimakan gelap.

Apakah aku bisa meninggalkan Maria? Setelah banyak cerita dan prosa yang kami buat dan ciptakan bersama. Tapi lantas bagaimana dengan istriku. Menantiku selama dua tahun. Menungguku di depan pintu, bersiap menyambutku.

Kemudian aku ingat alasan pertama aku berada di sini. Meski berat, istriku merelakanku pergi demi kami berdua. Demi anak kami yang wajahnya cuma kulihat dari foto dari e-mail.

Kutekan nomor rumahku di Indonesia. Dalam hitungan nano detik, terdengar suara di ujung sana. Suara istriku yang mengucapkan kata halo.

“Maaf,” jawabku. “Aku tak bisa pulang.”

Monday, March 17, 2008

MATSURI MARIA



Selama perayaan Matsuri, aku dan Maria sepakat untuk menghabiskan waktu seharian di flatnya, meminum sake, dan menonton DVD. Sebagaimana para perempuan Jepang di hari Matsuri, Maria mengenakan kimono hitam. Wajah putihnya dipulas dengan bedak tipis, sedikit polesan gincu warna merah, dan pipinya disapu merah perona. Rambutnya digulung ke atas sehingga memperlihatkan lehernya yang bening.

Kami hanya menonton DVD sambil menuang sake ke gelas dan menenggaknya tandas. Meski begitu, kami tak takut bosan. Sejujurnya, inilah yang aku inginkan. Maria menyenderkan kepalanya ke bahuku, melingkarkan tangannya ke tanganku, sambil kadang berkomentar tak penting atau bahkan tertawa kecil. Aku rela menukarkan semua waktu mudaku yang sia-sia untuk saat-saat seperti ini, meski hanya sedetik.

Tak terasa, semua DVD telah habis kami lahap. Bahkan beberapa di antaranya telah kami tonton berulang-ulang. Maria lalu menguap kecil dan menyambar gelasnya seperti elang, mengisinya dengan sake, dan menenggaknya langsung. Rasanya ia agak mabuk sedikit. Lalu ia berjalan ke pojok tempat dimana ia menaruh gitar, mengambilnya, duduk bersila dan mulai memetik bait awal Lucy in The Sky with Diamonds.

“Kamu tahu lagu ini,” tanyanya.

Aku anggukan kepalaku.

“Tahu kenapa John Lennon menciptakannya?” kembali ia bertanya. Aku merasa seperti berada dalam sebuah acara kuis musik di televisi.

“Semua orang tahu bahwa The Beatles tahun 60-an memakai obat, makanya tak heran kalau semua orang menyangka bahwa lagu itu tentang LSD kependekan dari Lucy in The Sky with Diamonds. Padahal menurut Lennon sendiri, ilhamnya berasal dari anaknya, Julian, yang pada suatu hari datang kepadanya, menunjukkan sebuah lukisan buatannya sambil berkata,’Look Dad! It’s Lucy! In the sky with diamonds.’ Betul kan?”

Maria tidak menjawab. Ia malah sibuk menyetem senar gitarnya.

“Kamu pernah membayangkan seperti apa anak kita nantinya?” Tanyanya tiba-tiba.

Aku agak terkejut. Belum pernah ia menanyakan hal seserius seperti ini.

“Maksudku, kalau suatu saat kita menikah,” ralatnya buru-buru setelah melihat raut wajahku yang aneh.

“Aku belum pernah memikirkannya,” ucapku. Sebuah jawaban abu-abu.

“Aku ke Kinokuniya beberapa hari yang lalu. Di sana sambil memilih buku, aku memperhatikan seorang anak perempuan. Ia memakai jaket merah muda dan sepatu dengan warna yang sama. Tangannya memegang buku anak-anak. Kemudian ia lalu berlari kecil ke arah ayahnya yang sedang membaca buku. Anak perempuan itu lalu bicara dalam bahasa Inggris yang sangat lancar, bahkan untuk anak seumurannya. ‘Look dad, look at these books,’ katanya. Ayahnya cuma mendehem pelan dan tidak memperhatikannya. ‘Can I buy it?’ tanyanya lagi. Ayahnya—tanpa melihat anak perempuannya—menggelengkan kepalanya. ‘You already buy one yesterday. Finish that first then you can buy a new book again,’ jawab ayahnya. Mendengar jawaban ayahnya, raut wajah anak perempuan itu segera berubah cemberut. Tapi sedetik kemudian berubah gembira lagi. ‘So that mean I can buy an ice cream?’ ucapnya lagi. Lucu sekali melihat anak perempuan itu. Pulang dari Kinokuniya, aku tak bisa menghapus wajah anak perempuan itu. Sejak itu, aku selalu memikirkan tentang mempunyai seorang anak. Menurutmu aku pantas menjadi seorang ibu?”

“Kamu pasti akan menjadi seorang ibu yang baik. Aku bisa membayangkannya. Kamu membacakan dongeng untuknya beserta gayanya sehingga ceritamu menjadi hidup di imajinasinya. Lalu ketika ia tertidur, kamu mengecup keningnya dan menyelimutinya. Pelan, kamu berbisik di telinganya tentang bagaimana kamu menyayanginya.”

Bibir tipisnya tersenyum. Matanya mengawang jauh. Wajahnya yang putih tertimpa sinar halus matahari. Sangat cantik. Ia seperti asik bermain di ladang pikirannya. Memanen tiap buah imajinasi yang ia telah tanam sebelumnya.

Dituangkannya lagi segelas sake dan meminumnya. Ia lalu berdiri dan berjalan ke rak CD di sebelah televisi.

Diambilnya CD album Sting dan menyetelnya. “Suka lagu ini?”

Aku menangguk.

“…See the children run among the fields of golds…When we walk the fields of gold,” lirihnya. Matanya terpejam seakan membayangkan ia berada di ladang itu.

Aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya. Tubuhku seakan mati rasa tak bisa digerakkan. Seluruh syarafku tumpul. Tak mau aku menggeserkan mataku darinya. Pikiranku seakan disergap tsunami yang menyeretku ke dalam dirinya lalu melepehku kembali ke dunia nyata. Bolak-balik tak berhenti.

Tuesday, January 08, 2008

Sekuel Maria



Aku dan Maria putus semalam. Kami bukan lagi sepasang merpati tapi seeokor macan dengan beruang-tak tertebak mana yang menang bila diadu.

Sebab kami pisah sebenarnya sekecil kerikil. Tapi kerikil pun bila ditimpuk berkali-kali ke dahi lama-lama akan menjadi benjol yang akut.

Semuanya berawal kemarin malam, saat aku dan Maria bertemu di kafe favorit kami di Shinjuku. Ia memakai jaket coklat dengan kaos merah muda di dalamnya. Rambutnya digulung rapi. Bibirnya polos tanpa gincu. Aku bantu membuka jaketnya dan memberikan kepada pelayan untuk disimpan di dalam lemari penyimpanan jaket.

Dia memesan segelas kopi decaf dan salad organik (ia sedang tergila-gila dengan konsep hidup sehat a la Skinny Bitch yang ditulis Kim Barnouin dan Rory Freedmam) sementara aku memesan segelas Heineken.

”Menurut kamu, film tadi bagus?” Katanya membuka percakapan sambil menyeruput kopi decaf-nya.

Aku menggeleng kencang. ”Bruce Willis melawan tokoh konyol, premis penjahat Hollywood yang gampang ditebak, plot lemah, dan ending yang bikin mual.”

”Aku lebih suka yang pertama. Seluruh sekuelnya tak ada yang bisa melebihi yang pertama. Ah, lagipula tak ada sekuel yang lebih bagus daripada film aslinya kan?” Katanya sambil mengunyah salad organik pesanannya.

”Gak juga. Indiana Jones?”

”Semua film Indiana Jones bukan sekuel. Masing-masing filmnya berdiri sendiri.”

Aku hampir tersedak buih bir saat mendengarnya berkata seperti itu. ”Sejak kapan seluruh seri Indiana Jones bukan sekuel?”

”Lho, sekuel kan harus berlanjut. Dan Indiana Jones tidak berlanjut.”

Kepalaku seperti disterika dan dadaku sesak seperti diikat tambang. ”Bego banget sih. Mana ada pengertian sekuel kayak gitu.”

Bisa aku lihat matanya berubah memicing tajam ke arahku. Kupingnya mengembangnya lebar. Ada riak di cangkir kopinya akibat gemetar tangannya. Tanpa bicara sepatah kata, ia berdiri dan pergi. Sementara aku hanya diam santai menikmati segelas birku.

Baru setelah keluar dari kafe, kukutuk diriku. Kukutuk lidah dan otakku yang tak mau bekerja sama. Kukutuk 30 tahun umurku yang masih saja berpikir bahwa seharusnya aku lebih pandai mengatur ucapanku.

Sekembalinya di flat, aku menekur panjang di sofa sambil tak hentinya mengganti semua kanal yang ada di TV. Aku mencari seribu pembenaran. Apakah aku bisa hidup dengan perempuan yang tak tahu arti sebuah sekuel dan konsep keselurahan cerita Indiana Jones? Bagaimana bila aku berdebat siapa yang harus mencuci celana dalam? Atau lebih parah, kanal TV apa yang harus kita lihat.

Keesokan paginya, aku bawa kakiku di sepanjang Shinjuku. Aku menyadari ternyata berjalan sendiri itu membuatku merasa lebih jantan. Tak ada rengekan pesta diskon atau sepatu mana yang lebih bagus.

Aku lalu masuk ke dalam kafe tadi malam. Pelayan yang sama dengan tadi malam menyambutku dengan senyum.

”Pacarnya nggak ikut?” Sambutnya.

Aku mendengus kesal. Tak ada tip buatmu hari ini.

Setelah agak malam, baru aku keluar dari kafe. Kunaikkan kerah jaketku, menyulut sebatang rokok dan memutuskan untuk berjalan kaki menuju flat. Tapi berjalan tanpa suara gelak Maria sungguh sunyi. Tidak ada cubitan dan lelucon tidak lucu yang membuatku harus pura-pura tertawa.

Tanpa rasional yang jelas, aku secepatnya lari ke flatnya. Dan setibanya sebelum aku sempat menekan bel, Maria telah membukakan pintunya untukku. Wajahnya kelihatan sedih.

”Aku lihat kamu dari jendela,” lirihnya dan segera menarikku masuk ke dalam flatnya.



Thursday, January 03, 2008

Yeah! Daun Muda 2007!


Ini iklan yang membawa gue dan art director gue ke finalis sepuluh besar daun muda award di citra pariwara 2007. Sekedar info, daun muda award itu kompetisi untuk insan iklan berumur di bawah 30 tahun di citra pariwara. Syaratnya mereka harus membuat iklan dengan tema tertentu. Tahun ini temanya adalah tentang aim higher.
Setelah beradu jurus dengan art director gue, akhirnya muncul ide tentang Gareng yang memakai baju Gatot Kaca. Rasionalnya sih kepingin bilang kalau selama ini Gareng yang selama ini jadi tokoh hiburan kepingin jadi peran jagoan. Klop kan dengan ide aim higher-nya? Alhamdulilah, iklan ini dilirik oleh juri dan masuk sepuluh besar untuk diadu lagi biar bisa menyabet tiket ke Thailand untuk ikutan Young Lotus Award, kompetisi untuk insan iklan se-asia pasifik!
Too bad, me and my partner did'nt win. But hell yeah, sepuluh besar aja udah seneng! Tahun depan masih bisa ikutan gak ya? Kan umur gue masih 29...