Thursday, July 21, 2005

Sepatu Olahraga Baru

Anak perempuanku kepingin sekali dibelikan sepatu olahraga baru. Punyaku sudah nggak jaman lagi, katanya. Istriku cuma menggeleng-geleng saat aku meliriknya. Istriku memang agak ketat soal uang. Ia hanya mau membelikan barang baru hanya di tahun ajaran baru. Titik.

"Kamu serius nggak mau beliin sepatu buatnya?" kataku ketika hendak tidur.

"No. Lagipula sepatu itu kan baru beli tahun kemarin. Masak sudah ketinggalan jaman gitu."

"Kamu nggak tahu anak jaman sekarang. Lihat sendiri kalau jalan di mall. Waktu kita dulu masih kecil mainnya telpon-telponan yang disambung benang. Sekarang mereka sudah pake PDA cuma buat ditelpon temennya doang."

Meski sudah kupaksa, ia tetap bersiteguh menolak untuk mengeluarkan uang. Walhasil malam itu kami terjaga hingga pukul 3 malam hanya untuk membicarakan masalah sepatu.

Paginya, anakku sudah berpakaian seragam sekolah lengkap, duduk cemberut di meja dapur, dan emoh untuk meminum susunya. Istriku membalas dengan menolak untuk memberikan sarapan pagi. Beruntung insiden kecil ini berhasil kuhentikan setelah kuingatkan istriku ada rapat awal lagi ini. Ia segera keluar dan pergi tanpa memanaskan mobilnya.

Sambil menungguku memanaskan motor, anakku masih cemberut. Pipinya tembem dan mulutnya monyong.

"Masih ngambek?" tanyaku. Ia tidak menjawab lalu naik ke motor dengan wajahnya yang manyun.

Di perjalanan menuju sekolahnya, aku membelok ke mall bukan ke sekolahnya. Ia memekik kencang.

"Loh, papa kok ke mall. Aku bentar lagi telat," pekiknya lucu.

"Bolos sehari nggak apa-apa kan? Mau sepatu baru nggak?"

"Nanti kalau mama nanya gimana?"

"Kalau kamu nggak bilang, papa juga nggak bilang oke?"

Hari itu aku bolos sehari dan bersenang-senang dengan anakku: beli sepatu, makan McDonald, beli baju, dsb.

Sorenya saat pulang, istriku yang kebetulan sudah pulang berdiri di depan pintu sambil menenteng sepatu baru dengan ukuran sesuai dengan kaki anakku.

"Mama belikan kamu sepatu baru asal kamu minum susu ya."

Aku dan anakku saling melirik dan kulihat ada letupan kebahagiaan di matanya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home