Monday, July 18, 2005

Kafe Seberang Apartemen

Setiap pergi ke kampus di pagi hari, kusempatkan waktu membeli secangkir kopi di kafe seberang apartemen. Tempatnya mungil dengan interior Prancis yang mengingatkanku pada film-film Alain Delon. Kursi-kursinya ditata rapi dengan meja bundar putih bergaya retro.

Karena sudah langganan, pelayannya hapal dengan pesananku: cafe latte dingin untuk dibawa. Tapi pagi ini, aku memutuskan untuk meminumnya disini karena kuliahku baru mulai 2 jam lagi. Aku duduk di pojok dekat kaca besar yang memungkinku melihat keluar. Sambil menyalakan sigaret, kurogoh tasku mencari pensil dan buku.

Saat hendak menulis, mendadak pandanganku beralih ke tiga deret meja dihadapanku: seorang anak perempuan, memakai sweater hijau mencolok, dan di lehernya melingkar kalung mutiara imitasi yang panjang sehingga ia nampak baru melangkah keluar dari tahun 1920-an. Ia kelihatan sibuk menggambar di bukunya. Sesekali ia meminum jus jeruk di sebelah kanannya dan kembali membenamkan dirinya lagi di buku gambarnya.

Berani benar anak ini. Sendiri duduk di kafe, tak ada rasa takut secuil pun. Padahal waktu pertama kali aku datang, lewat jam sembilan pun aku tak berani keluar apartemen. Ngeri melihat negro-negro yang nongkrong dekat pintu apartemen. Sungguh iri rasanya melihat keberaniannya.

Tak berapa lama, ia kelihatan bingung. Agaknya pensilnya patah. Tapi ia tak habis akal. Ia mengeluarkan cutter dan diserutnya pensil itu. Aku berdiri menuju ke mejanya dan kuberikan pensilku. Ia menatapku tanpa rasa takut.

"Thanks," katanya dan kembali sibuk menggambar.

Dan saat aku keluar dari restoran itu, mendadak aku jadi lebih berani.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home