Monday, March 17, 2008

MATSURI MARIA



Selama perayaan Matsuri, aku dan Maria sepakat untuk menghabiskan waktu seharian di flatnya, meminum sake, dan menonton DVD. Sebagaimana para perempuan Jepang di hari Matsuri, Maria mengenakan kimono hitam. Wajah putihnya dipulas dengan bedak tipis, sedikit polesan gincu warna merah, dan pipinya disapu merah perona. Rambutnya digulung ke atas sehingga memperlihatkan lehernya yang bening.

Kami hanya menonton DVD sambil menuang sake ke gelas dan menenggaknya tandas. Meski begitu, kami tak takut bosan. Sejujurnya, inilah yang aku inginkan. Maria menyenderkan kepalanya ke bahuku, melingkarkan tangannya ke tanganku, sambil kadang berkomentar tak penting atau bahkan tertawa kecil. Aku rela menukarkan semua waktu mudaku yang sia-sia untuk saat-saat seperti ini, meski hanya sedetik.

Tak terasa, semua DVD telah habis kami lahap. Bahkan beberapa di antaranya telah kami tonton berulang-ulang. Maria lalu menguap kecil dan menyambar gelasnya seperti elang, mengisinya dengan sake, dan menenggaknya langsung. Rasanya ia agak mabuk sedikit. Lalu ia berjalan ke pojok tempat dimana ia menaruh gitar, mengambilnya, duduk bersila dan mulai memetik bait awal Lucy in The Sky with Diamonds.

“Kamu tahu lagu ini,” tanyanya.

Aku anggukan kepalaku.

“Tahu kenapa John Lennon menciptakannya?” kembali ia bertanya. Aku merasa seperti berada dalam sebuah acara kuis musik di televisi.

“Semua orang tahu bahwa The Beatles tahun 60-an memakai obat, makanya tak heran kalau semua orang menyangka bahwa lagu itu tentang LSD kependekan dari Lucy in The Sky with Diamonds. Padahal menurut Lennon sendiri, ilhamnya berasal dari anaknya, Julian, yang pada suatu hari datang kepadanya, menunjukkan sebuah lukisan buatannya sambil berkata,’Look Dad! It’s Lucy! In the sky with diamonds.’ Betul kan?”

Maria tidak menjawab. Ia malah sibuk menyetem senar gitarnya.

“Kamu pernah membayangkan seperti apa anak kita nantinya?” Tanyanya tiba-tiba.

Aku agak terkejut. Belum pernah ia menanyakan hal seserius seperti ini.

“Maksudku, kalau suatu saat kita menikah,” ralatnya buru-buru setelah melihat raut wajahku yang aneh.

“Aku belum pernah memikirkannya,” ucapku. Sebuah jawaban abu-abu.

“Aku ke Kinokuniya beberapa hari yang lalu. Di sana sambil memilih buku, aku memperhatikan seorang anak perempuan. Ia memakai jaket merah muda dan sepatu dengan warna yang sama. Tangannya memegang buku anak-anak. Kemudian ia lalu berlari kecil ke arah ayahnya yang sedang membaca buku. Anak perempuan itu lalu bicara dalam bahasa Inggris yang sangat lancar, bahkan untuk anak seumurannya. ‘Look dad, look at these books,’ katanya. Ayahnya cuma mendehem pelan dan tidak memperhatikannya. ‘Can I buy it?’ tanyanya lagi. Ayahnya—tanpa melihat anak perempuannya—menggelengkan kepalanya. ‘You already buy one yesterday. Finish that first then you can buy a new book again,’ jawab ayahnya. Mendengar jawaban ayahnya, raut wajah anak perempuan itu segera berubah cemberut. Tapi sedetik kemudian berubah gembira lagi. ‘So that mean I can buy an ice cream?’ ucapnya lagi. Lucu sekali melihat anak perempuan itu. Pulang dari Kinokuniya, aku tak bisa menghapus wajah anak perempuan itu. Sejak itu, aku selalu memikirkan tentang mempunyai seorang anak. Menurutmu aku pantas menjadi seorang ibu?”

“Kamu pasti akan menjadi seorang ibu yang baik. Aku bisa membayangkannya. Kamu membacakan dongeng untuknya beserta gayanya sehingga ceritamu menjadi hidup di imajinasinya. Lalu ketika ia tertidur, kamu mengecup keningnya dan menyelimutinya. Pelan, kamu berbisik di telinganya tentang bagaimana kamu menyayanginya.”

Bibir tipisnya tersenyum. Matanya mengawang jauh. Wajahnya yang putih tertimpa sinar halus matahari. Sangat cantik. Ia seperti asik bermain di ladang pikirannya. Memanen tiap buah imajinasi yang ia telah tanam sebelumnya.

Dituangkannya lagi segelas sake dan meminumnya. Ia lalu berdiri dan berjalan ke rak CD di sebelah televisi.

Diambilnya CD album Sting dan menyetelnya. “Suka lagu ini?”

Aku menangguk.

“…See the children run among the fields of golds…When we walk the fields of gold,” lirihnya. Matanya terpejam seakan membayangkan ia berada di ladang itu.

Aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya. Tubuhku seakan mati rasa tak bisa digerakkan. Seluruh syarafku tumpul. Tak mau aku menggeserkan mataku darinya. Pikiranku seakan disergap tsunami yang menyeretku ke dalam dirinya lalu melepehku kembali ke dunia nyata. Bolak-balik tak berhenti.

3 Comments:

At 4:22 PM, Anonymous Anonymous said...

This comment has been removed by a blog administrator.

 
At 5:47 PM, Blogger nmh said...

jadi kapan lo mau punya anak ndro?
:D

 
At 5:06 PM, Blogger Rini said...

smoga anaknya nanti ga ky bapaknya:p

 

Post a Comment

<< Home